Mbah Marijan Simbol Kesetiaan?
April 12th, 2011
Poerwadie
Sosok yang paling populer disaat bencana gunung merapi terjadi, tidak lain dan tidak bukan ya hanya satu yaitu Mbah Marijan sang juru kunci merapi. Beliau terkenal dan populer dikarenakan keenggananya untuk mengungsi disaat aktivitas salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia itu meningkat dan mencapai level tertinggi sebelum meletus yaitu level awas. Alasan beliau untuk tidak mengungsi adalah bahwa ia diberi amanah oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai juru kunci dan menjaga gunung merapi. Amanah inilah yang menjadikan dia beranggapan kalau dirinya mengungsi berarti ia telah melanggar amanah yang diberikan sang sultan kepadanya. Dan satu-satunya orang yang bisa memerintahkan dia untuk pergi mengungsi ya hanya Sultan Hamengku Buwono IX. Padahal sekarang sang sultan telah mangkat puluhan tahun lalu.
Jika kita lihat dari sikap sang juru kunci dalam menjaga amanah yang diberikan padanya meski nyawa sebagai taruhannya, memang Mbah Marijan ini bisa dijadikan contoh simbol kesetiaan seorang abdi dalem pada rajanya. Beliau pasrah bila ternyata awan panas “wedus gembel” mengenai desanya, rumahnya, bahkan dirinya. Sebab beliau percaya bahwa kematian merupakan hal sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Sampai akhirnya gunung merapi meletus dan menyemburkan awan panas pada tanggal 26 Oktober 2010 yang menerjang desa Kinahrejo, desa tempat kuncen merapi ini tinggal. Beliau wafat bersama orang-orang yang masih bertahan di rumahnya masing-masing.
Kesetiaan Mbah Marijan yang tetap memegang amanahnya sampai ajal menjemput inilah yang menjadikan cerita inspirasi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tapi ada juga masyarakat yang menyayangkan kematianya. Sebab mereka menilai tugas sebagai juru kunci hanya mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan upacara keraton Yogyakarta yang sering digelar di gunung merapi. Tapi apa yang ditangkap Mbah Marijan lebih dari itu, beliau menganggap merapi bagaikan seseorang yang hidup dan membutuhkan perlakuan yang baik. Oleh karena itu melihat dari pengorbanannya maka pantas bila beliau dijadikan sebagai simbol sebuah kesetiaan yang patut diteladani dan diambil nilai-nilai positifnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.